Aku menggoresmu dengan coretan-coretan : luapan hati, gambar-gambar, dan coretan sembarang; dan melipatmu menjadi bentuk-bentuk dan wujud tertentu.
Dengan seni, seperti kertas dan kanvas, aku memperlakukanmu: waktu.
p.s. : siapa yang lebih hebat, kamu atau aku, waktu?
Showing posts with label kata-kata. Show all posts
Showing posts with label kata-kata. Show all posts
Tuesday, June 7, 2011
Thursday, November 11, 2010
Agar-agar
Terkadang seseorang hanya menginginkan agar-agar.
Bukan ice cream yg mewah, bukan cake yang selangit rasanya.
Bukan itu semua, cuma agar-agar....
# dan setelah semuanya berlalu, aku masih tetap saja mengagumimu.
Bukan ice cream yg mewah, bukan cake yang selangit rasanya.
Bukan itu semua, cuma agar-agar....
# dan setelah semuanya berlalu, aku masih tetap saja mengagumimu.
Label:
iblis sastra,
kata-kata
Friday, July 2, 2010
Dalam Kata-kata
Seperti pohon, cinta mungkin hanya selembar daun, setetes dua getah, sebatang ranting, seutas akar, atau mungkin setumpuk jerami usang. Dia menyokong hidup si pohon, tapi bukan berarti satu-satunya yang penting.
Kita jatuh cinta. Begitu saja. Seolah narasi cerita sedang terpusat pada kita berdua. Lalu seperti penulis yang mabuk dengan cerita yang ditulisnya, kita mengurai kata demi kata di barisan kisah cinta. Tapi kita tetap memberi spasi bagi tiap kata, sadar bahwa kedekatan hati dalam wujud tulisan dan cerita utuh lebih penting dari sekedar kedekatan fisik dalam kata-kata.
Lalu cerita kita terasa indah, tapi narasinya semakin sukar diterka. Melambung antara mentari dan hujan, kita melukis pelangi. Menari antara nada dan suara, kita mencipta melodi. Menyempil antara tangis dan tawa, kita menikmati kebersamaan.
Dan?
Dan lalu sampailah kita pada kejenuhan. Bukan, bukan karena kita saling bosan. Hanya saja, seperti yang kuibaratkan cinta pada pohon. Suatu saat kita merasa kata-kata kita tak lagi ceria dan bermakna. Hanya coretan-coretan. Tapi itu mungkin yang diperlukan, agar suatu saat kita bisa mengenangnya dengan kata-kata yang lebih beralur. Atau mungkin rasa kita tak lagi dapat diterka dari kata-kata, hingga kita melihat satu sama lain tak lagi memesona?
Kita jatuh cinta. Begitu saja. Seolah narasi cerita sedang terpusat pada kita berdua. Lalu seperti penulis yang mabuk dengan cerita yang ditulisnya, kita mengurai kata demi kata di barisan kisah cinta. Tapi kita tetap memberi spasi bagi tiap kata, sadar bahwa kedekatan hati dalam wujud tulisan dan cerita utuh lebih penting dari sekedar kedekatan fisik dalam kata-kata.
Lalu cerita kita terasa indah, tapi narasinya semakin sukar diterka. Melambung antara mentari dan hujan, kita melukis pelangi. Menari antara nada dan suara, kita mencipta melodi. Menyempil antara tangis dan tawa, kita menikmati kebersamaan.
Dan?
Dan lalu sampailah kita pada kejenuhan. Bukan, bukan karena kita saling bosan. Hanya saja, seperti yang kuibaratkan cinta pada pohon. Suatu saat kita merasa kata-kata kita tak lagi ceria dan bermakna. Hanya coretan-coretan. Tapi itu mungkin yang diperlukan, agar suatu saat kita bisa mengenangnya dengan kata-kata yang lebih beralur. Atau mungkin rasa kita tak lagi dapat diterka dari kata-kata, hingga kita melihat satu sama lain tak lagi memesona?
Label:
Cinta,
iblis sastra,
kata-kata,
sketsa
Saturday, May 1, 2010
when a smile feels like spell

This, is the moment when a smile cast me a spell..
And it lift me up from my own hell,
Unrestrained me from the jail..
Believe me, it's mystifying!
- sketch and words, by me.
Label:
Cinta,
iblis sastra,
kata-kata,
sketsa
Subscribe to:
Posts (Atom)
