Friday, July 2, 2010

Dalam Kata-kata

Seperti pohon, cinta mungkin hanya selembar daun, setetes dua getah, sebatang ranting, seutas akar, atau mungkin setumpuk jerami usang. Dia menyokong hidup si pohon, tapi bukan berarti satu-satunya yang penting.

Kita jatuh cinta. Begitu saja. Seolah narasi cerita sedang terpusat pada kita berdua. Lalu seperti penulis yang mabuk dengan cerita yang ditulisnya, kita mengurai kata demi kata di barisan kisah cinta. Tapi kita tetap memberi spasi bagi tiap kata, sadar bahwa kedekatan hati dalam wujud tulisan dan cerita utuh lebih penting dari sekedar kedekatan fisik dalam kata-kata.

Lalu cerita kita terasa indah, tapi narasinya semakin sukar diterka. Melambung antara mentari dan hujan, kita melukis pelangi. Menari antara nada dan suara, kita mencipta melodi. Menyempil antara tangis dan tawa, kita menikmati kebersamaan.

Dan?

Dan lalu sampailah kita pada kejenuhan. Bukan, bukan karena kita saling bosan. Hanya saja, seperti yang kuibaratkan cinta pada pohon. Suatu saat kita merasa kata-kata kita tak lagi ceria dan bermakna. Hanya coretan-coretan. Tapi itu mungkin yang diperlukan, agar suatu saat kita bisa mengenangnya dengan kata-kata yang lebih beralur. Atau mungkin rasa kita tak lagi dapat diterka dari kata-kata, hingga kita melihat satu sama lain tak lagi memesona?

Saturday, May 1, 2010

when a smile feels like spell




This, is the moment when a smile cast me a spell..
And it lift me up from my own hell,
Unrestrained me from the jail..

Believe me, it's mystifying!
  • sketch and words, by me.

Friday, April 16, 2010

Kegilaan Waras

Kata orang, iri hati, dendam, dan rencana busuk selalu punya hubungan baik. Mereka seperti kakak beradik, seperti sahabat karib. Dan seperti hubungan yang intim itu, jika satu saja terlukai, maka yang lain akan membalaskan untuk lainnya.

Dan apakah kebenaran sejati itu bergantung pada kesungguhan atau banyaknya pendukung? Apakah status waras dan gila juga ditentukan oleh 'kata orang lain'?

Azrilbie, seorang penyihir kepercayaan Sulbamby, seorang raja yang terkenal akan kebijakannya di mata rakyat, kini harus menanggung beban dendam tak terperikan pada sang raja. Dendam kesumat yang mungkin tak sanggup ditanggung sebuah gunung; seperti halnya tanggung jawab atas dunia yang telah manusia ambil di awal penciptaannya, hal yang tak sanggup ditanggung sebuah gunung hingga gunung itu hancur berkeping-keping –tapi manusia sepertinya punya kesombongan yang teramat besar telah berani menerima tanggung jawab atas dunia itu.

Sulbamby telah memperingatkan Azrilbie untuk membatasi penggunaan kekuatannya itu, agar ia tidak membuat kekisruhan dengan mengadu domba penyihir-penyihir lain di kerajaan Dercidia. Sulbamby tahu keahlian lain yang sangat diandalkan Azrilbie : kepercayaan dirinya atas kekuatan sihir dan kemampuannya memutar balik keadaan untuk mencapai hal yang diinginkannya.

Keputusan Sulbamby untuk lebih memercayai Smulyndra akhir-akhir ini membuat Azrilbie merasa tersingkirkan. Dan dari sekian banyak bentuk siksaan bagi orang yang memunyai cinta berlimpah, adalah tersingkirkan dan tak dianggap keberadaannya, bukan?

Tidak ada negeri lain yang lebih Azrilbie cintai dari Dercidia. Ia dilahirkan di daerah Brandia, suku Dercidia yang terkenal akan binatang-binatang besar berkulit tebal dan sangat ditakuti amukannya : konon, di negeri nun jauh di timur sana, di mana hujan dapat berlangsung begitu lama hingga banjir dan air bah menenggelamkan istana-istana megah, dan lalu berganti musim kering hingga hampir seluruh danau tempat orang timur itu hanya berisi debu, hewan itu disebut gajah. Meskipun Brandia tak punya sejarah hebat atas kejayaan Dercidia, tapi menjadi salah satu orang kepercayaan Sulbamby tentu memberi sejarah sendiri atas Brandia.

Ketika kita mencintai sesuatu hingga terlalu berlimpah, sampai kita tak tahu lagi batas-batas kasih dan benci, penisbian sesederhana apapun bisa membuat kita membenci dan mendendam.

Dendam merenggut waktu dari kita. Mungkin kau tak percaya kawan, tapi cobalah lihat orang-orang yang hidupnya mendendam, bahwa hatinya dipenuhi dengan kabut-kabuttebal, hingga keriput-keriput menggantung di dahinya, kantung-kantung hitam mengelilingi matanya. Seolah Azrilbie hidup dengan akselerasi waktu beberapa kali lebih cepat ketimbang umurnya.

Tidak ada yang akan menyangka umurnya barulah kepala empat, jauh lebih muda ketimbang Sulbamby, sang raja. Perawakannya yang kecil –khas penyihir, dan tubuh yang kian membungkuk selaras dengan keriput-keriputnya membuat ia terlihat berumur tujuh atau delapan puluhan. Mungkin tubuhnya kian membungkuk menahan beban dendam yang semakin menggunung.

Tapi untuk pengalaman hidup sebagai penyihir, Azrilbie punya segudang, dan sangat sedikit penyihir lain di Dercidia yang mampu menandinginya. Tidak juga Smulyndra, sebenarnya. Penyihir perempuan muda adik seperguruannya itu, yang kini semakin tenar kemampuannya. Azrilbie punya lebih dari cukup kemampuan untuk menghabisi Smulyndra jika mereka berhadapan secara frontal. Tapi ia tak mau mengotori tangannya begitu saja. Masih banyak cara yang lebih akan membuatnya tersohor dan mampu menunjukkan kelasnya sebagai penyihir wahid di Dercidia.

Hal yang semakin membuat Azrilbie membenci Smulyndra mungkin adalah kemampuan Smulyndra untuk mengetahui rencana-rencananya lebih detil, dan kedekatannya dengan sang raja mampu menggagalkan beberapa rencana Azrilbie yang telah disusunnya serapi mungkin.

Dan yang membuat Azrilbie harus lebih elegan dalam menghabisi Smulyndra adalah ketidakinginannya sendiri untuk dikenang sebagai penyihir hitam –bagaimanapun, mengakhiri hidup dengan kutukan-kutukan adalah hal yang tidak ingin ia pilih.

Waktu mungkin menyembuhkan luka, tapi tidak dengan dendam. Ia justru hanya akan membuat dendam semakin berkesumat, membesar seperti tumor. Dan mungkin bagi beberapa orang yang mendendam, bergulirnya waktu memberi mereka kesempatan untuk meyusun rencana-rencana pembalasan dendam, member mereka keberanian melakukan hal-hal di luar kewajaran yang seharusnya bisa mereka lakukan.

Melawat ke negeri-negeri timur yang jauh, menjalin kerja sama dengan raja-raja mereka yang penuh dengan keserakahan –dan memanfaatkan mereka untuk mencari bunga-bunga langka yang beracun, yang mungkin hanya tumbuh di gunung yang letaknya di atas awan; atau membunuhi hewan-hewan ganas hanya untuk diambil darah otaknya; untuk membuat ramuan paling berbahaya di dunia mungkin adalah hal terkeji dan tergila yang pernah dilakukannya. Ia mengorbankan banyak prajurit negeri-negeri timur itu, setelah berhasil mengelabuhi raja-raja bodoh dan serakahnya, atau mengancam mereka dengan kutukan-kutukan hitam penyihir.

Belasan tahun ia relakan untuk ramuan itu : ramuan gila! Ya, ramuan yang akan membuat siapapun yang meminumnya menjadi gila. Dan ramuan itu, bukan hanya akan ia minumkan pada Sulbamby ataupun Smulyndra –mereka mungkin justru tak akan meminum ramuan itu karena mereka tahu apa yang disodorkan Azrilbie pasti bukan hal yang baik.

Ia punya rencana yang lain.

***

Azrilbie adalah sahabat karib yang hebat. Seorang penyihir yang sejak muda dulu selalu dipuji banyak penyihir senior Dercidia. Sulbamby sebenarnya tak pernah ingin menyingkirkannya, mengingat kemampuan sahabatnya ini sebenarnya lebih dari cukup untuk menunjang perbaikan di Dercidia. Tapi ambisi yang ada di matanyalah yang membuat Sulbamby memutuskan untuk mengurangi kepercayaannya pada Azrilbie. Lagi pula, kemunculan Smulyndra dengan kecerdasannya, semakin membuat Sulbamby berani mengurangi ketergantungannya pada Azrilbie.

Laporan-laporan beberapa pembesar lain tentang ketidakberesan Azrilbie sempat membuatnya bimbang. Tapi rakyatnya lebih penting ketimbang persahabatan gombal masa mudanya. Dia seorang raja, yang sudah sepatutnya mengutamakan rakyatnya bukan? Tapi ia tak pernah menyadari satu hal yang sangat berbahaya : dendam orang yang mencinta jauh lebih besar ketimbang dendam orang yang membenci!

Rakyat Dercidia minum dari danau-danau bertuah. Beberapa danau, bertuah untuk prajurit-prajurit, yang akan memberi mereka kekuatan dan keberanian lebih dalam menghadapi lawan di medan perang. Beberapa danau bertuah memberikan ketegaran pada istri-istri, agar mereka punya kerelaan melepas suami-suami mereka berperang. Beberapa lainnya punya tuah untuk anak-anak kecil Dercidia, memberi mereka imajinasi-imajinasi agar kelak mereka mampu menjadi orang-orang hebat Dercidia. Beberapa danau justru sudah ditinggalkan, karena tuah-tuahnya sekarang tidak terasa dan cenderung membodohkan.

Danau-danau yang makin diminati adalah danau-danau yang memberi rakyat tuah pengetahuan. Azrilbie ikut berperan membuat salah satu dari danau itu. Danau Onoe.

Sebagai salah satu orang yang berperan membuat danau itu, Azrilbie punya kuasa yang sangat besar atas Danau Onoe. Dan ramuan itu, akan dengan mudah ia cemarkan ke Danau Onoe itu. Dan juga beberapa danau lain, meski ia harus sangat berhati-hati dalam mencemarkannya. Berita buruknya adalah, ramuan itu telah ia campurkan pula pada minuman para anggota dewan kerajaan.

Singkat cerita, Danau Onoe telah ia cemari dengan ramuan gila itu. Dan tidak butuh waktu lama bagi Azrilbie untuk memanen hasilnya : keesokan harinya, banyak sekali warga Dercidia yang tiba-tiba menjadi gila. Begitu juga anggota-anggota dewan kerajaan, meskipun Sulbamby dan Smulyndra serta beberapa pembesar lain belum meminum air itu. Mungkin mereka justru tidak akan meminum air itu.

Tapi minum tidaknya Sulbamby, Smulyndra, dan pembesar-pembesar loyal itu tidak menjadi masalah buat Azrilbie. Perhitungannya telah sangat matang, dan itu justru akan membuat orang-orang itu meminta ramuannya langsung pada Azrilbie –ia yakin, mereka justru telah tahu bahwa penyebar wabah kegilaan itu adalah dirinya.

Sulbamby tahu, permainannya melawan Azrilbie sedang tidak memihak padanya. Sebagian besar rakyatnya telah menjadi gila, dan mereka yang waras sudah tidak mampu lagi menilai kewarasannya sendiri, sampai-sampai mereka merasa mereka juga telah menjadi gila.

Ketakutan akan kegilaan telah membuat mereka menjadi gila dengan sendirinya. Bukankah ketakutan akan sesuatu justru bisa membuat hal buruk terjadi begitu saja, karena tidak ada lagi keberanian kita untuk menghadapi ketakutan akan hal itu?

Sulbamby hendak memutuskan untuk menutup Danau Onoe, tapi itu pasti keputusan yang akan membuat ia dianggap gila, karena Danau Onoe punya tuah pengetahuan. Seorang raja yang melarang rakyatnya menengguk air pengetahuan pastilah raja yang bodoh atau gila, bukan?

Kini Sulbamby dan Smulyndra dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang waras di tengah rakyat yang sudah menjadi gila. Dan kewarasan mereka justru membuat mereka dianggap gila.

Mungkin satu-satunya cara agar mereka kembali waras di hadapan rakyatnya adalah dengan meminum air dari Danau Onoe, yang akan membuat mereka menjadi gila. Kegilaan akan membuat mereka dianggap waras.

Mungkin, suatu saat kita menjadi gila di tengah-tengah orang waras, atau justru menjadi waras di tengah-tengah orang gila tapi tetap dianggap gila. Mungkin juga kita tidak tahu tingkat kewaras-gilaan kita, karena kita hidup di tengah-tengah orang gila.


# Seorang pembicara terkenal diundang oleh komunitas nude. Ia bimbang, apakah akan memberi ceramah dengan memakai baju lengkap dan resmi, atau mengikuti tren komunitas itu dan memberi ceramah dengan telanjang. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan yang ke dua, dan betapa terkejutnya ia, ketika ia tampil tanpa busana di depan komunitas telanjang itu, ia mendapati hanya ia yang telanjang, karena komunitas itu telah memilih memakai pakaian lengkap dan resmi untuk menghormati si pembicara.

# Untuk raja, yang sepertinya masih waras, di tengah rakyatnya yang sepertinya semakin gila.

# Untuk penyihir jahat, yang merasa menang atas penggilaannya pada rakyat : Kau tak bisa mengklaim kemenanganmu, kecuali kau ikut menjadi gila!

Tuesday, January 5, 2010

Badai Matahari Aesop

Aesop

Aku, yang terbiasa hidup di belahan bumi tropis dengan panas yang menyengat tentu mulai tak tahan dengan dingin es. Gigiku, yang biasanya selalu ngilu ketika meminum air es, kini harus menghadapi dingin salju. Minus enam derajat di daratan Eropa ini, di musim dingin pertamaku. Air panas yang baru kutuang dari teko pun sampai tak terasa panasnya ketika kuseruput. Nafasku menderu, dengan uap putih yang bisa dilihat mata telanjang. Ini hanya terjadi ketika musim penghujan yang dingin di bumiku nun jauh di sana, di pagi buta sehabis fajar.

Delapan ratus meter menuju blok rumahku, dengan salju setebal lima sentimeter teronggok di tepi-tepi jalan. Aku merapatkan mantel musim dinginku. Televisi-televisi di etalase-etalase toko itu tiba-tiba mewartakan kemungkinan badai dalam waktu dekat. Delapan menit. Aku harus sudah sampai di rumah sebelum badai itu benar-benar datang. Aku berharap badai itu tak jadi melanda kota kecil ini.

Tapi terkadang Tuhan tak benar-benar mengabulkan semua permintaanmu bukan? Meskipun kau berbuat baik sebanyak apapun, Dia selalu akan mengujimu. Dan kau pikir, sebesar apa imanmu kalau sampai kau tak mau diuji, sedangkan rasul-rasul dan nabi-nabi saja mengalami hal-hal yang lebih berat?

Badai itu datang juga. Lima menit lebih cepat dari perkiraan. Seperti yang digambarkan di televisi-televisi dulu, ketika aku masih hidup di belahan bumi tropis itu, badai tak pernah sopan maupun rapi. Awalnya kukira aku bisa melawan arus badai ini. tapi kupikir, lebih baik aku menyingkir dari jalanan; menepi, dan lalu mampir ke sebuah toko kopi. Kebetulan aku sedang ingin bekerja sampai agak larut, dan secangkir kopi itu pasti mampu mengurangi kantukku.

Badai

Siapa yang pernah meminta untuk apa ia ditakdirkan ada? Babi mungkin akan memilih menjadi sapi sebelum ia dilahirkan; agar ia disukai daging dan susunya, tanpa kontroversi yang menempel di tiap gigitannya. Juga tak perlu berkotor-kotor. Sapi juga dipuja oleh sebagian agama. Tapi babi tetaplah babi, dan sapi tetaplah sapi. Dan badai, dengan semua perangai yang melekat padaku.

Wanita muda itu begitu menarik perhatianku. Dia kedinginan karena salju yang mulai menebal.

Tidak semua yang jahat selalu berniat jahat. Kadang mereka hanya jahat dalam satu sisi, mungkin beberapa bahkan hanya sekali, dan baik di sepanjang waktunya, tapi tetap dicap sebahai si jahat. Si jahat juga mungkin bisa jatuh cinta. Begitulah badai, aku, jatuh cinta pada wanita muda itu. Aesop namanya. Dan ia sedang kedinginan.

Sikap tidak pernah selamanya hanya dipengaruhi perangai. Aku tetap bisa mencinta. Hanya saja, ketika cara dan usahamu tak tepat, kasihmu akan terasa seperti pecut. Aku hanya ingin ia merasa lebih baik dan tidak kedinginan. Salju itu sepertinya tak terlalu tebal. Dan aku merasa aku bisa menyapunya dengan sekali dua tiupan. Mungkin ketika salju itu sudah kutiup, wanita muda bernama Aesop itu akan merasa lebih baik -belakangan aku tahu kalau ia terbiasa hidup di belahan bumi tropis. Dan kupikir ia bisa melepaskan mantel bulunya yang berat itu. Tubuhnya yang indah tak perlu lagi ditutupi dengan mantel bulu.

Tapi ia memilih mengeratkan mantelnya ketika ia kusapa dengan kasihku. Tiupan ringanku untuk menyapu salju rupanya justru membuat Aesop semakin kedinginan. Beberapa kali salju yang terlempar kutiup itu justru menerpanya.

Matahari

Sahabatku, badai, kutahui jatuh cinta pada wanita muda rupawan itu. Sebagai sahabatnya, aku pun harus menghormati perasaannya, meskipun wanita muda itu benar-benar memikatku juga. Maka aku memilih menutup diri di balik mendung. Membiarkan badai menyapa pujaan hatinya.

Tapi badai mundur. Kasihnya ditolak dengan telaknya. Sungguh tak berperasaannya wanita muda itu pikirku.

Aesop

Aku benci badai. Aku memilih mencintai matahari, karena ia tak pernah memaksaku melepaskan mantel bulu tebal ini. Badai, dengan kasihnya yang membabi buta, hanya berpikir dari satu arah : membahagiakanku dengan caranya, tanpa pernah ingin tahu mauku. Matahari mencurahkan kasihnya dengan lembut, mencairkan salju-salju dengan kehangatannya, bukan dengan tiupan-tiupan pengusiran badai.

Terkadang, bujukan jauh lebih kuat daripada paksaan paling berkuasa sekalipun.

Matahari

Aku terkejut ketika ia, wanita muda berparas rupawan itu, memilih mencintaiku. Pepatah manusia memang benar; 'cinta tak pernah punya kualifikasi tertentu'. Tapi seperti air, semakin kau menggenggamnya, semakin cepat pula air itu habis dari genggamanmu. Semakin kau renggangkan ciduk tanganmu, semakin cepat pula air itu bocor. Dan aku harus tetap menjaga kehangatanku agar tidak bersinar terlalu terik, atau wanita muda itu akan memilih awan sebagai cintanya; karena awanlah yang akan memayunginya nanti dari sengat terikku.

Manusia tetaplah manusia. Setinggi apapun imajinasi mereka dengan tulisan, gambar, lukisan, sketsa-sketsa, dan media lainnya, mereka akan tetap mendeskripsikan tentang manusia. Karena yang hanya mereka tahu dan paling mereka tak pernah tahu adalah tentang diri mereka sendiri.


Literatur : Aesop, Fabelis Yunani.

Wednesday, September 16, 2009

Rebahan Hati

blablabla...
ba bi bu..
nye nye nye..

Saya rasa, dengan lebaran ini semua orang sudah mengikhlaskan kesalahan satu sama lain.

Jabat tangan;
Temu pandang;
Silang kata; dan
Pelukan hangat;
bukan lagi menjadi keharusan; melainkan hanya formalisasi ekspresi.

Teruntuk :
teman,
sahabat,
saudara,
handai taulan,
pacar,
gebetan,
mantan pacar,
saingan,
atasan,
bawahan,
guru,
murid,
rekan sekalian;
yang tak sempat dan atau tak mungkin ditemui, mari saling memaafkan, tanpa perlu permohonan resmi.

Ini masalah hati..


-Seulas senyum saya yang paliiiiiiiiiing manis buat kalian-

Wednesday, August 19, 2009

Selisik Hati

Menyelisik hatimu.
Adalah aku di sana.
Di ujung sepi, berpendar senoktah.
Dalam resah, dalam ragu.
Bilakah kamu memijar, tanyamu.

Menyelisik hatiku.
Adalah kamu di sana.
Di pusat hati, terangkai mimpi.
Dalam rindu, dalam bisu.
Bolehkah kamu kuandaikan, benakku.

Dalam temaram hatiku, hatimu.
Untuk diam, yang diam-diam kau idam-idamkan puisinya.

Thursday, July 30, 2009

Segitiga Kata-kata

-sambil melipat secarik puisi-

Untuk apa sastra, dengan buah-buah kata-kata indah, sajak-sajak berima, dan majas-majas tegas itu kau sembahkan untukku?
Toh itu tak mengenyangkanku, hanya membuat berangan-angan tentang kegombalanmu!
-dyra-
Tanyakan saja pada dirimu sendiri, untuk apa agama itu, dengan dalil-dalil nasykil, hadist-hadist filosofis, dan wahyu-wahyu Tuhanmu itu diturunkan?
Toh itu tak mengenyangkan kita, hanya membuat berangan-angan tentang surga-Nya!
-sastrawan gombal-
Aku benci semua filosofi bodohmu, tapi aku suka caramu mengungkapnya.
-pecinta ironi-

Tuesday, July 28, 2009

Bedtime Story

Aku ingat ketika dulu, ayahku membacakan cerita-cerita dan dongeng-dongeng aneh tiap malam, saat kami hendak tidur.

Tentang Centaur, yang ayah ceritakan dengan penuh takzim karena keperkasaannya, kerendahhatiannya, dan kepahlawanannya. Tentang Nabi-nabi, dengan segala mukjizat, kesabaran, kecerdasan, dan keimanannya yang diceritakan dengan doa-doa oleh ayah. Atau tentang Gajahmada, Ken Arok - Ken Dedes, Upasara Wulung -yang kujamin sangat sedikit yang tahu tentang dia, Werkudara dan tokoh pewayangan lainnya yang diceritakan ayah dengan runut. Belum lagi ketika beliau mengisahkan Sudirman, Diponegoro, Sukarno, Tjoet Njak Dhien, Natsir, kakek, dan kakek buyut : dengan mata menyala-nyala, semangat berkobar-kobar, dan tangan yang berulang kali mengepal. Dan yang seringkali-meski paling jarang ayah ceritakan- membuatku takzim dengan kesantunan, keironisan, metafora, dan majas-majas indah : tentang Chairil Anwar, Buya Hamka, Shakespeare.

Tapi tak pernah ayahku menceriterakan kepahlawanan yang seperti hari itu. Yang dikobarkan dengan doa-doa ketuhanan, keimanan, dan kenegaraan, tapi dipenuhi dengan kebencian dan kengerian : sebuah ledakan tak seberapa, tak lebih hebat dari bunyi petasan cengisan seharga seratus perak yang tiap bulan puasa kami nyalakan.

Aku, adalah seorang pahlawan.
Yang memerangi kejahatan : maka aku membunuh semua penjahat, para orang jahat.
Yang memerangi kemiskinan : dan kubinasakan semua orang miskin.
Yang memerangi kebiadaban : dengan menghabisi orang-orang biadab secara keji.
Yang memerangi kekafiran : lalu membunuh pafa kafir, seperti seorang iblis.
Yang memerangi kebodohan : menjadi malaikat maut - membunuh semua orang bodoh, termasuk dirinya sendiri.


Ode, untuk mereka yang menyebut dirinya pahlawan : dengan menghancurkan ekonomi bangsa, membungihanguskan harga diri negeri.