Tuesday, January 27, 2009

Merah dan Biru

Begitu lekat di otak Biru, bagaimana gadis Merah itu merekah.
Memamerkan pipinya yang memang merah.
Bagaimana dengan lugasnya si gadis Merah menentukan arah.
Tentang cara si gadis Merah menghalau gundah.
Juga menyingkirkan resah.
Dan justru menggantinya dengan tawa renyah.
Merah, Meriah, Indah.

Biru, menderu.
Memacu diri bak peluru.
Hanya agar dirinya, dan hatinya tak terharu biru.
Memamerkan tawa baru agar tak terburu.
Bahwa hatinya sedang terluruh.
Pada gadis Merah yang dikenalnya baru.


Ah, Biru tak pernah berani menampilkan warna birunya di depan Merah.
Dia takut, Merah tak kan suka dengan Birunya.
Tak berani sampai sampai nanti sang Merah tercemar Birunya.
Biru yang tak membiru.

Hanya justru terus menyalahkan waktu.
Mengapa Merah tak kunjung memberi petunjuk?
Biru seperti apakah gerangan yang diinginkan sang Merah?
Atau Si gadis Merah ini tak menghendaki biru, dan menghasratkan warna lain?

Ah, tapi Biru akan tetap selamanya biru.
Tak bisanya dia menjadi Merah, untuk menyamai si gadis Merah merona itu.
Mungkin ia bisa saja menjadi Hijau, ketika ia bertemu kuning.
Namun, tentu saja, Hijau itu bukan Biru.

Dan benarkah Merah itulah yang diinginkan Biru?
Bukan Kuning? Hijau? Hitam? Ataupun Putih?

Si Biru hanya tahu satu hal :

Ungu, dia nantinya adalah Ungu itu sendiri, meski ia adalah paduan Merah dan Biru.

Biarlah si gadis Merah itu memerahkan diri, hingga menjadi seindah-indahnya Merah.
Dan Biru akan berusaha membiru, selayak-layaknya Biru untuk Merah yang indah itu.
Agar nanti, ketika saatnya tiba, ketika Merah itu mengatakan "iya", paduan Merah dan Biru itu kan menjadi Ungu yang paling indah.

Tapi sampai kapan Biru akan mendengar kata "iya" itu, kalau si Biru sendiri pun tak berani menanyakannya pada si gadis Merah?